On The News – 24/05/2024, 14:50 WIB
Penulis : Amelia Cornelia
Surabaya, OTNews - (24/5/2024) Prihatin dengan banyaknya perlintasan kereta api tak
berpalang, salah satu kakek yang sukarela menjadi penjaga perlintasan kereta api di usia senja.
Meski tidak digaji dan nyawa taruhannya, Pak Kesi tetap semangat demi keselamatan
pengendara. Setiap hari, di bawah terik matahari Pak Kesi, kakek berusia 70 tahun itu memulai
aktivitas rutinnya dengan berjalan kaki menuju perlintasan kereta api di Jalan Kebonsari, tidak
jauh dari rumahnya. Dengan topi anyaman dan peluit di tangan, ia mengemban tanggung jawab
yang sangat penting bagi keselamatan warga. Di lokasi perlintasan, biasanya Pak Kesi sudah
ditunggu oleh temannya yang akan menggantikan saat ia beristirahat. Ketika kereta akan
melintas, Pak Kesi segera menghentikan para pengendara yang akan lewat dan memastikan
tidak ada yang melintas saat kereta datang lalu, menarik palang pintu yang terbuat dari kayu
dengan sisah tenaga yang ia punya.
Perlintasan kereta api ini sejak dulu selalu ramai dilintasi warga karena menjadi penghubung
antara Jalan Kebonsari dan jalan sekitarnya. Sebelum ada penjaga seperti Pak Kesi, perlintasan
ini sering kali menjadi lokasi kecelakaan tragis yang memakan korban jiwa. Menjadi penjaga palang pintu kereta api seperti Pak Kesi memerlukan ketelitian. Ia harus siap siaga saat kereta api akan melintas tanpa alat bantu apapun, kecuali pada malam hari ketika ada lampu sinyal dari kereta api.
Seperti mendapat
ilham oleh sang pencipta inilah yang mendorong Pak Kesi untuk mulai menjaga perlintasan
tersebut sejak tahun 1991 hingga kini. Meskipun baru saja mendapat imbalan gaji dari instansi
wali kota, dedikasi Pak Kesi sudah teruji selama bertahun-tahun. Pemberian sekedarnya dari
pengendara yang melintas menjadi penyemangat tersendiri bagi Pak Kesi, “Saya bekerja bukan
cuma nyari uang tok tapi menyelamatkan banyak orang supaya gasampai tertabrak kereta,” ujar
Pak Kesi dengan penuh ketulusan.
Pak Kesi tinggal seorang diri, jauh dari anak dan cucunya. Banyak orang yang iba melihat
kondisi Pak Kesi yang sudah lanjut usia namun tetap gigih menjalankan tugasnya. Tak sedikit
yang memberikan uang maupun sembako sebagai tanda simpati dan apresiasi. Di usianya yang
senja, Pak Kesi masih ingin mengabdi dan membantu menjadi penjaga lintas rel kereta yang
jauh dari kata sempurna keamanannya. Mata pak Kesi pun berkaca-kaca saat menjelaskan
betapa sedihnya jika sesuatu yang tidak diinginkan terjadi “Masuk dihati saya tuh mikir,
waduh.. keluarga Saya kalo gaada saya, yang kasi makan siapa….,” begitu kata Pak Kesi saat
membayangkan kegagalan menjaga warganya yang ditinggal oleh tulang punggung keluarga.
Di balik senyumnya, terpancar cinta kasih dan rasa tanggung jawab yang luar biasa. Namun,
Pak Kesi memiliki harapan besar kepada pihak PT Kereta Api untuk lebih memperhatikan
lokasi perlintasan ini. Ia berharap palang pintu yang tidak layak digunakan segera diperbaiki
agar tidak terjadi kecelakaan antara pengendara dan kereta api. Dengan penuh dedikasi, Pak
Kesi terus menjalankan tugasnya, menjadi garda terdepan bagi keselamatan warga Kebonsari

Comments
Post a Comment