Surabaya – Dibalik kehidupan sesorang yang mengeluh terkait pekerjaan karena sulit mendapatkanya. Berdirilah seorang yang keseharian nya menjaga dan menjaga kebersihan makam yang ada di Eka Peraya Surabaya. Namanya adalah Ipung, seorang penjaga kubur dan juga kepala Krematorium dimakam Eka Praya Surabaya yang berusia 65 tahun. Yang telah melakukan pekerjaan penjaga kubur selama 41 tahun lamanya.
“Saya sudah dari 1983 saya sudah menjadi penjaga di Eka Peraya ini” dengan wajah yang gemetar karena penyakit tremor. Ia bekerja di Eka Praya Surabaya, memastikan bahwa Krematorium dan makam berjalan dengan baik. Dan menjaga makam Eka Praya dari siang hingga malam hari.
Menjadi penjaga kubur bukanlah impian nya tetapi karena ketidakmampuannya mencari pekerjaan yang layak baginya . “Saya menjadi penjaga kubur ini juga karena saya juga sulit mencari pekerjaan mau tidak mau jadi seperti ini saya” imbuhnya sambil bernada menegaskan. Ia menjelaskan ia menjadi penjaga kubur karena ia tidak pernah lolos menjadi guru negeri, sehingga dia akhirnya menjadi penjaga di Eka Praya Surabaya.
Demi menafkahi keluarganya Ipung rela untuk menjadi penjaga kubur di makam Eka Praya Surabaya. “Dari tahun 1983 sampai sekarang sudah 41 tahun saya bekerja di sini belum ada kenaikan gaji sama sekali “imbuhnya sambil menahan air matanya. Ipung menjelaskan bahwa gajinya tidak ada peningkatan meski gajinya dibawah UMR Surabaya sekarang ini.
Dalam setiap harinya ipung selalu berada di makam Eka Praya Surabaya sebagai penjaga disana ia biasanya perbulan mendapatkan uang sekitar Rp. 3.500.000 dalam sebulan. “ya gaji saya aja hanya di bawah umr dan tidak naik sama sekali dari awal saya bekerja “kata Ipung sambil mata berkaca kaca. Namun dengan pendapatan yang segitu Ipung selalu bekerja dengan rasa syukur karena masih memiliki pekerjaan.
Dalam menjalani kesehariannya kehidupan Ipung selalu di anggap rendah dan juga tidak memiliki harga diri di kampungnya karena dia merupakan penjaga kubur di Eka Praya Surabaya. “ bukan hanya masyarakat saja dari keluarga saya juga tidak setuju dengan pekerjaan saya sekarang ini “imbuhnya dengan wajah kesal. Meski begitu Ipung menjalani pekerjaan nya dengan penuh semangat dan pantang menyerah.
Ipung mengaku dia dulunya sering membantu orang tuanya yang juga berprofesi sebagai penjaga makam. “ya jujur saja saya ini lulusan IKIP “imbuhnya sambil menegaskan perkataannya. Ipung mengaku bahwa dia juga melakukan magang di beberapa sekolah di Surabaya, namun tetap saja dia tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
“Ya anak saya juga pernah tanya tentang pekerjaan saya ya saya jawab “kata Ipung. Anaknya menanyakan pekerjaan Ipung sebagai penjaga kubur dan sering merasa malu akan hal tersebut yang membuat Ipung terkadang harus menjelaskan pekerjaan nya sekarang.
“Ya saya senang nya karena saya bisa lebih bersyukur dan saya bisa lebih memperesiapkan diri saya selama saya masih hidup“ imbuh Ipung. Dia mengaku lebih bisa bersyuukur karena dalam pekerjaan ini dia bisa lebih memperhatikan kualitas hidupnya.
Ketika melihat ipung kita bisa lebih bersyukur pada apa yang kita miliki dan kita bisa melihat bahwa usaha belum tentu membuahkan hasil dan gelar belum tentu bisa beruntung.

Comments
Post a Comment